Selasa, 02 Juni 2015

Tua bukan berarti usang (Kisah Abdul Syukur, Penarik becak)



Apa yang terlintas ketika mendengar kata “tua”.  Pastinya identik dengan reot, usang, ringkih dan lain sebagainya.  Berbeda dengan itu semua, ada sosok di daerah Surabaya. Dengan ke-tua-annya tidak membuatnya patah arang dalam berkontribus memberikan yang terbaik bagi sekitar.

Abdul Syukur, mungkin bagi masyarakat sekitaran Surabaya tidak asing dengan sosok ini. Pria kelahiran 1950 masih kuat menarik becak, aktivitas yang sudah ia tekuni semenjak  tahun 1968. meskipun tubuh tuanya  memiliki kemampuan yang terbatas, namun ia tidak membatasi dirinya dalam beraktivitas.
Bahkan dengan penghasilan sebesar Rp. 50.000,- dikala ramai dan kisaran Rp. 10.000,- jika sedang sepi penumpang tidak membuat ia patah arang. Pak Dul, sebagian memanggilnya itu, tetap saja menekuni aktivitas tersebut selama puluhan tahun. 


Yang membuat terhenyak saya adalah aktivitasnya setelah menarik becak. Ia menyempatkan diri  mengumpulkan batu-batu kecil, memecah-mecahkan batu besar hingga kecil agar dapat digunakan untuk menutupi lobang-lobang yang terbuka dijalan. Semua itu Pak Dul lakukan tanpa ada yang menyuruh, tanpa ada yang membayar. Hanya atas dasar ke-ikhlasan saja dan keperdulian terhadap lingkungan saja.  Pak Dul iba setiap kali melihat pengendara motor terjatuh akibat lubang yang terbuka di jalan. Daripada menunggu para pihak yang bertanggung jawab mengambil tindakan, ia (dengan segala keterbatasannya) mencoba membantu sebisanya.

Dengan keikhlasannya ini pula, sebagian memberikan uang lelah, tetapi tidak luput pula sebagian lagi menyebutnya “orang gila”. Terserah orang akan memanggilnya apa, sedikitpun pak dul tidak perduli. Ia hanya perduli untuk tetap beraktivitas dan berbagi apa yang bisa ia bagikan. Satu kata untuk Pak Dul, Luar biasa, demikian dalam situs Andrie Wongso diucapkan. Ia terus berbagi sepanjang usianya. 

Semoga kisah ini membuat setiap kita menjadi bijak, menjadikan setiap pihak yang bertanggung jawab terhadap kerusakan di jalan untuk dapat bergerak semaksimal mungkin. Dan tidak juga meniru yang dilakukan Pak dul dengan meminta-minta uang sebagai imbal jasa (kalau diberikan ya diterima, kalu tidak dikasih setidaknya jangan marah). Karena Pak Dul melakukan semua itu awalnya hanya semata-mata kerelaannya tanpa ada harapan pemberiang uang atau apapun itu. 

Bahkan karena ketulusannya ini pula yang membawa beliau untuk akhirnya dapat bertemu dengan beberapa orang-orang penting, Walikota Surabaya contohnya.  

Terima kasih Pak Dul sudah memberikan contoh tidak hanya sekedar perkataan tetapi lebih keras melalui perbuatan.



4 komentar:

  1. ketulusan tanpa batas ya bang, semoga niat tulusnya menginspirasi orang byk :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ibu Ria... semoga kita yang muda-muda mampu mencontoh niat tulusnya :)

      Hapus

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih