Minggu, 17 Mei 2015

Jawaban Tuhan atas Doa ( Indah pada waktunya)

Kali ini dilayani oleh Ps. A.R. Bernard twiternya ada di @ARbernard.  Diawal khotbahnya ia mengatakan bahwa generasi saat ini menyerap informasi melalui penglihatan dan pendengaran.

Generasi milenia yang usianya kisaran 20-30 tahun kebanyakan dan biasanya mempertanyakan semua hal yang dilakukan generasi sebelumnya. 

Di generasi sekarang dengan marketing yang luar biasa, siapapun yang memiliki bahasa yang baik akan mengendalikan percakapan.

 
Sangat penting bagi kita untuk terlibat dalam Mengendalikan bahasa yang dipakai sehinga kita mampu mengendalikan setiap percakapan yang hadir.

Saat ini ada perbedaan antara agamawi dan rohani. Agamawi selalu dikaitkan dengan ritual kebiasaan dari sebuah kepercayaan yang dianut sementara rohani lebih kepada sebuah hubungan personal dengan Tuhan. Terkadang kita disebut mahluk Rohani tanpa mau mengikuti sebuah ritual keagamaan. Dan ritual keagamaanlah yang membuat kita dekat kepada Tuhan. Lalu bagaimana mengetahui sebuah hubungan yang baik dengan Tuhan dan bagaimana kita menguji hubungan dengan Tuhan tersebut? 


Kerohanian  harus didefinisikan dan didasarkan kepada kitab suci. Ini berhubungan dengan kapasitas yang seseorang  miliki. Kapasitas adalah potensi yang ada dalam seseorang. Setiap kali Tuhan berbicara, Ia sedang berbicara mengenai kapasitas yang ada dalam diri, yang terkadang kita sendiri  tidak menyadarinya.

Tuhan ingin mengeluarkan setiap potensi yang ada dalam diri seseorang. Meningkatkan kapasitas adalah sebuah yang penting dan perlu kita lakukan. Semakin banyak kita menampung semakin banyak pula yang akan Tuhan berikan. 

Mari kita lihat kata spritualitas dihubungkan dengan kapasitas. Kapasitas yang kita miliki sebagai manusia adalah untuk mengenal dan memahami Tuhan. Agama adalah pengelolaan dalam sesuatu yang sifatnya ritual dalam sesuatu yang terorganisir. Tuhan yang mengijinkan  agar manusia mengenal dan memahaminya. Diri kita  adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar, tidak hanya sekedar diri kita sendiri. 

Jesus adalah perwujudan Allah yang hidup dalam  wujud manusia. Kita adalah saksi daripada kehidupan yang pernah dijalankan. Kerohanian adalah kapasitas untuk mengenal dan memahaminya. Dunia menolak kata agamawi karena menolak praktek agama untuk bertemu dengan Tuhan. Hal ini bisa berbahaya karena dapat menjadi sebuah pengalaman yang tidak berlandaskan Tuhan. Sangat sulit untuk dilakukan uji coba.

Kita mengenal Tuhan melalui kitab suci yang didalamnya ada pengetahuan tentang Tuhan. Inilah sebabnya kitab suci merupakan inti dari setiap pelayanan.Yesus dan FirmanNya adalah satu bagian utuh. Kita mengalami Tuhan didalam doa, dalam penyembahan, dalam meditasi (saat teduh), saat berpuasa, saat menyangkali daging, saat berkomunitas dalam gereja, kita mengalami Tuhan paling jelas dalam kehidupan kita sehari-hari. 

Pada saat berkat datang, di situasi tertentu kita menyadari keberadaan Tuhan dan Ia akan selalu ada. Injil dipakai agar melihat hubungan manusia dengan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa kisah yang diangkat dari perjanjian lama seperti membangkitan orang mati, menyembuhkan yang sakit dan lainnya dikisahkan untuk membangun hubungan manusia dengan Tuhan dalam keseharian.

Mengalami Tuhan sehari-harilah yang menjadikan iman kita relevan. Relevan artinya praktis. Relevant artinya iman kita bisa dijalankan sehari-hari. Secara sosial dapat diterapkan. Iman mengambil pertimbangan lingkungan sosial dimana kita hidup. Mempertinbangkan semua budaya, filsofi hingga semua ide yang muncul dilingkungan kita. Kita harus mengerti agar tahu Tuhan  menjawab doa secara utuh. Tuhan menjawab doa utuh sesuai dengan lingkungan kita dan bukan  secara terpisah dari lingkungan.

Ia mempertimbangkan semua pengetahuan dan pengalaman yang sudah seseorang miliki. Ia juga mempertimbangkan semua kekuatan sosial hingga semua tekanan yang ada dalam lingkungan. Ia adalah Tuhan yang relevan dalam kehidupan.

Dalam cerita Lukas 7 : 11 seorang wanita yang kehilangan anak laki-lakinya. Sementara itu ia juga seorang janda. Ia tidak memiliki proteksi perlindungan dari suami. Dalam budaya kala itu jika suami sudah meninggal maka anak laki yang tertua menjadi perlindungan sang ibu. Dan anak laki satu-satunya pun meninggal. Semua perlindungan yang ia miliki sudah tidak ada. Sang ibu sedang berhadapan dengan masa depan yang tidak ada jaminan dan kekuatan ekonomi sama sekali. Ketika Tuhan datang Ia mengerti bahwa sosok ibu yang berhadapan dengan  masa depan yang sangat sulit dan pegangan ekonomi. Itu sebabnya dalam perjanjian lama Tuhan perduli dengan anak-anak terlantar dan janda-janda. Itu juga alasan mengapa Ia membangkitkan putra sang ibu. Ia tidak hanya mengembalikan sang putra dari kematian tetapi memberikan kehidupan kepada sang ibu, masa depan yang penuh kepastian.

Ketika Tuhan menjawab doa Ia tidak hanya menjawab dan  hanya fokus kepada doa itu sendiri tetapi melihat seluruh sisi dalam kehidupan seseorang. Sisi pekerjaan, sisi sosial dan sisi lainnya. Tuhan melihatnya sebagai sebuah kesatuan. Ini terkadang alasan seseoerang melihat doa menjadi tertunda. Ia tidak mau menjawab doa secara setengah-setengah. Tuhan  menjawab doa secara komperensif dan utuh sesuai dengan kita dan lingkungan sekitar. 

Jika seseorang datang kepada Tuhan, mengertilah bahwa Tuhan melihat secara utuh, mulai dari kemampuan, masa lalu, masa depan dan lingkungan seseorang. Ia juga akan menjawab doa  secara utuh pula. 

Happy sunday :)
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih