Jumat, 01 Agustus 2014

Pesona dibalik Ruwetnya Wisata Tanjung Kait Tangerang Jawa Barat

Wisata kuliner Tanjung kait
Berlokasi disekitaran Tangerang, persisnya bisa ditanyakan ke Mba Google ya. Tanjung Kait itu identik dengan wisata Pantai. Jejeran Pantai sudah terlihat ketika sudah berada di ujung jalan raya Mauk Tangerang, Jawa Barat. Dari Karawaci itu kurang lebih 2 jam. Saya juga kurang hafal daerah sekitara Mauk, tapi kerabat yang lain dengan bantuan Google Maps mudah menemukan Tanjung Kait.

Beberapa tahun yang lalu untuk menuju wisata kuliner Tanjung kait jalannya rusak parah, untungnya kemarin infrastruktur daerah Mauk hingga Tanjung Kait sudah sangat baik. Hingga sangat membantu para wisatawan domestik untuk menikmati panorama sekitaran pantai (harapan awalnya). 

Tapi siapa sangka, rupanya karena bertepatan dengan libur lebaran tahun 2014, pengunjung pantai Tanjung Kait sangat membludak. Mulai dari Tugu diujung hingga Raya Mauk hingga ke Tepian Tanjung Kait ramai dipadati masa yang hendak berlibur.

Memang tujuan sebagian pendatang ke Tanjung Kait tidak hanya menikmati Kulinernya yang tergolong murah meriah dan menyehatkan saja, ada juga sebagian yang menyalurkan hobi seperti memancing ataupun sekedar keliling-keliling saja.

Hanya saja, lokasi wisata ini masih belum terjamah campur tangan pemerintah, sehingga kesannya masih semerawut, kotor, acak-acakan. Penunjuk arah yang tidak jelas, Sehingga terkesan pengunjung wisata Tanjuk Kait hanya untuk penduduk sekitaran situ saja. Seandainya bisa diolah lebih baik lagi, saya yakin Tanjug kait memiliki pesona dan daya tarik sendiri. 

Hal ini saya rasakan dari sendiri dari murahnya ikan-ikan laut yang ditawarkan. Kami itu kurang lebih belanja sekitaran 13,5 KG ikan laut. Total yang kami bayar (sudah termasuk diolah untuk siap dimakan) Rp. 950.000,-  Bandingkan dengan Ban**r Jak**ta atau Panganan Laut yang berada disekitaran kelapa gading.

Pun demikian dengan warga sekitar yang hanya memungut retribusi pariwisata tanpa pernah memberikan penjelasan area mana saja yang layak dikunjungi. Plus banyaknya retribusi dan pungutan-pungutan yang sifatnya tidak jelas. Pun dengan parkirnya, mereka melakukan pungutan tanpa memastikan tersedianya tempat parkir. 

Tidak hanya semerawutnya pungutan liar, ditambah lokasi sekitar tanjung kait sendiri tidak mendukung. Air laut yang coklat keruh, bau amis ikan dan saung-saung yang tidak tertat rapi. Berikut tampilannya.


Sekitaran Tanjung Kait (masih Jorok)
Parkir Motor yang asal-asalan

Lokasi Bakar Ikan

Fasilitas Umum (Toilet)

Pantai yang keruh & Coklat



Kios ikan









Saungdan pantai yang tidak terawat




Saung yang seadanya




Ikan Bakar 13,5 KG
Tapi hal ini mungkin terjadi karena dihari-hari biasa Tanjung Kait jarang dikunjungi wisatawan, meskipun sabtu dan minggu biasa, tanjung kait tidak seramai kemarin. Seandainya Pemerintah melaui kementrian Pariwisata turut membantu membenahi Tanjung Kait saya optimis kedepannya Tanjung Kait menjadi salah satu tujuan wisata kuliner dan wisata pantai..

Sebagian kerabat memang menyesal dengan keramaian dan sumpeknya Tanjung Kait, awalnya pun saya merasa sama. Tetapi selesai menyantap segala ikan bakar dan menikmati kelapa muda dan semilir angin, yah sedikit terbayar kekecewaan diawal. Terbersit juga, kalau ada waktu akan mengunjungi kembali tanjung kait, mungkin tidak di hari libur Nasional tetapi di hari libur biasa.

Dan saya sangat optimis Tanjung Kait dapat menjadi salah satu tujuan Wisata Pantai dan Kuliner di kawasan Tangerang dan Mauk.

Salam Pariwisata....
Jakarta, 31 juli 2014

6 komentar:

  1. Di Indonesia masih banyak wisata yang belum terkelola dengan baik padahal sangat potensial. Semoga kedepan Tanjung Kait semakin baik.

    Saya juga suka dengan ikan bakar mas, apalagi dengan kelapa mudanya. Hem bikin ngilerr

    BalasHapus
  2. Kalau soal makanan yang disajikan tidak kalah enak dengan yang di resto2 ternama... hanya kalah telak di lokasi dan kondisi pantai ini...

    Seandainya tanjung kait di kelola dengan baik,, bukan tidak mungkin suatu saat ke depan akan menjadi sebuah lokasi wisata yang layak untuk dikunjungi bersama keluarga... :)

    BalasHapus
  3. wahh, sangat sayang ya mas,, jika terus begini, semoga kedenpannya lokasi wisata ini bisa lebih dirawat, :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga ke depannya lebih baik pariwisata di tanjung kait

      Hapus
  4. pungutannya menyebalkan, lebih bagus kalo pungutan 1 pintu yg bisa dikelola karang taruna atau kelurahan. seafoodnya mahal juga dibandingkan dengan destinasi sekitar situ seperti tanjung burung.

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener mba.. memang banyak pungutan liar yang tidak dikelola dengan baik...lebih terkesan sebagai pungutan liar

      Hapus

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih