Rabu, 28 Agustus 2013

Jangan Pernah Takut untuk Bermimpi Kawan!!!!!

Ilutrasi
Dikisahkan tentang seekor siput kebun yang bernama Theo, dimana ia kagum kepada sosok Guy Gagne seorang pembalap Indianapolis 500. Idolanya inilah yang memunculkan obsesi kuat dalam dirinya. Tetapi tetap akan selalu muncul rintangan, bahkan saudaranya sendiri Chet mencegah sebisa mungkin agar Theo membatalkan mimpinya dan sadar akan kodrat. Tidak berhenti hanya sampai di Chet, komunitas siput juga mengejek dan mencemooh mimpi Theo. 

Theo tidak sedikit pun kecil hati, hingga suatu ketika sebuah kejadian yang membuatnya masuk tersedot ke sebuah mesin pembalap super drag. Perubahan nasib pun dialami oleh Theo, molekul-molekul dalam tubuhnya saling berinteraksi dengan molekul dari mesin tersebut. Inilah yang menjadikannya seekor siput yang super cepat. Bahkan ia mampu menembus kecepatan 200km/jam. Theo pun mengganti namanya menjadi Turbo. 

Hidup pun berlanjut, nasib membuatnya bertemu dengan Tito seorang pramusaji restoran. Kisah Turbo/Theo berawal dari sini, dimulai dari perlombaan antar sesama siput hingga bergerak ke pentas Internasional. Sekaligus membuatnya bertemu, bertanding dengan idolanya Guy Gagne di Indianapolis 500. Di akhir cerita Turbo mampu mengalahkan Guy Gagne, meski pun Guy tidak merelakan gelarnya direbut seekor siput, tapi apa boleh buat, nasib berkata lain.

 
Pesannya adalah tidak ada mimpi yang terlalu besar dan tidak ada pemimpi yang terlalu kecil plus tidak ada yang mustahil di dunia ini, alam pun akan campur tangan, Tuhan pun tidak akan tinggal diam. Sulit, tidak berarti mustahil, tidak mudah menyerah dan percaya pada diri sendiri. Mimpi itu indah kawan. Mimpi itu ajaib, Mimpi pulalah yang membuat kita tetap bertahan untuk hidup. 

Kisah tadi serupa dengan yang ayah saya buat. Beliau salah satu pejuang mimpi itu. Berani mengambil keputusan untuk meninggalkan tanah kelahiran, mengadu nasib ke Tanah Jawa dengan tidak bermodalkan apa-apa. Saat itu orangtuanya bersedia menyekolahkan bahkan memasukkan disalahsatu instansi setempat kala itu. Berlatar belakang hobi untuk melayani, terlebih selama ini bergaul lama dengan orang keturunan Cina yang mengajarkan etos kerja tinggi, ulet dan sabar, akhirnya jadilah pengusaha kecil-kecilan. Pergi ke Jakarta, tinggal di tempat sanak saudara, sedikit banyak impian teguh yang dipegangnya mulai dipengaruhi saudara tadi. Diawali dari mau jadi apa dengan berdagang? Berapa keuntungan dari berdagang? Sederhananya, semua saudara menceritakan pengalaman dan dukungan kepada ayah, tetapi dibalik dukungan yang mereka berikan besar harapan mereka semua adalah agar ayah memilih jalur lain dimana lebih aman dibandingkan dengan berdagang ala pedagang kaki lima yang tidak jelas. 

Terus Kejar Mimpimu
Tetap teguh dengan pendiriannya, ini adalah mimpi yang sejatinya ia perjuangkan. Ayah kembali kedaerah asalnya Sumatera, Tanah Karo, untuk mencari seorang gadis. Ciut juga nyalinya, dengan tidak memiliki apa-apa, berani melamar seorang gadis. Dengan memberanikan diri mendekati gadis yang dicintainya, mengutarakan maksud dan tujuannya (besar kemungkinannya ditolak). Syukurlah si gadis pun berani mengambil resiko untuk menikah dengan ayah. Pada saat itu ayah berkata kepada si gadis, sekarang saya belum menjadi siapa-siapa tetapi nanti saya yakin dengan bersama kita bisa menjadi sesuatu.

Dan titik balik itu timbul pada saat pernikahan. inilah yang mendorongnya lebih giat dalam berdagang. Tuhan itu ada, batinnya berkata. Sementara ibu menjaga toko kelontong, sekaligus belajar untuk melayani pembeli. Ayah berekspansi ke bidang lain. Sementara ada keluarga yang menawarkan bantuan dan dukungan dengan syarat agar berhenti dari kegiatan berdagang ini. 

Ayah yang sudah mempelajari metode dagang dengan alami, beralih ke bidang lain. Kali ini mencoba keberuntungannya berjualan pakaian. Dengan modal yang dikumpulkan dari hasil penjualan kelontong. Sementara itu kakak pertama lahir. Toko baru, keluarga baru, pengalaman baru dan beban ekonomi baru dengan bertambahnya anggota keluarga. Prinsip ayah sederhana kala itu, “Kalau tidak bisa mendapatkan penghasilan yang banyak, ya sudah kurangi kebutuhan hidupmu. Prinsip itu yang masih saya ingat hingga kini. 

Karena beban kebutuhan hidup semakin bertambah. Ayah mendidik ibu agar mahir dalam berjualan pakaian, ia pun mencari cara baru agar mendapatkan penghasilan. Ayah mencoba menjadi sopir angkutan umum. Beberapa lama menjadi sopir, ada juga modal untuk memiliki sebuah angkutan umum. Hanya saja modal itu masih kurang. Mau tidak mau harus pinjam. Berat pastinya, karena akan ada penolakan-penolakan dari saudara lainnya. Tapi tidak ada pilihan lain, ayah memberanikan diri. Semua ini dilakukan demi bertahan hidup dan memberi kehidupan yang layak bagi anak-anaknya kelak. Tidak sedikit saudara yang meragukan kala itu. 

Moto Hidupnya
Waktu terus berjalan, pinjaman kepada saudara bisa dibayar lunas, saatnya naik kelas bagi ayah. Ia mau menambah armadanya. Dengan modal seadanya ia beranikan diri mengajukan pinjaman lunak ke bank. Syukurlah, bank memberikan pinjaman. Sementara ibu sendiri semakin maju dengan usaha pakaiannya. Saat itu, toko kami sudah resmi menjadi milik sendiri. Tidak kontrak dan pindah-pindah lagi.

Sekarang ayah sudah memiliki 5 angkutan umum serta 1 toko sparepart motor untuk adik saya. Sementara ibu memiliki 2 toko di 2 pasar yang berbeda. Saat ini pulalah, saudara-saudara bisa tersenyum bangga dan mengatakan kepada ayah, pilihan yang ia ambil untuk fokus ke dagang sudah tepat. Seandainya ia memutuskan untuk tetap kuliah dan kerja di instansi negeri, entah seperti apa hasilnya. Ia pun berhasil menyekolahkan anak-anak hingga ke jenjang Sarjana. 

Andri wongso dalam satu bukunya mengatakan “Buka pikiran, lapangkan hati, mantapkan langkah, tingkatkan kesabaran, teruskan perjuangan, maka kita akan menjadi sang pemenang sejati dalam kehidupan”.

Sebagai seorang kepala keluarga, menghadapi penolakan dari saudara dan keluarga tidak menyurutkan mimpinya. Ia yakin prinsip hidupnya sudah benar, lakukan maksimal masa tidak berhasil. Kalau berikhtiar melakukan hal baik, Tuhan tanpa diminta persetujuan pun pastinya akan setuju. Ditambah ia keras terhadap dirinya, “Jika dapat Rp. 5000,- pastikan biaya hidupnya setengah dari itu”.

Saat ini, mimpi itu belum berubah, semakin menjadi besar se-linear perkembangan yang sudah dialami beliau.

2 komentar:

  1. Saya sedari dulu suka bermimpi...utk memotivasi hidup, toh mimpi itu tidak merugikan oranglain kan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju.. Mimpi tidak pernah merugikan orang lain... Selain itu mimpi itu memotivasi hidup :)

      Hapus

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih