Rabu, 22 Mei 2013

Air masih kotor

Sampel air, Airnya berminyak 
Ini sudah minggu ke 2, semenjak air sumur kami dilakukan pendalaman. Sebelumnya menurut developer, kedalaman sumur kami ± 12 meter. Kami melayangkan keluhan, syukurlah masih didengarkan oleh developer dan dilakukan pendalaman kembali. Saat ini sudah ± 18 meter.

Tapi tetap saja air yang dikeluarkan tetap keruh. Meskipun tidak kami pungkiri, air keluar semakin banyak dan deras. Toch tetap tidak layak untuk dikonsumsi. Bahkan untuk sekedar mencuci piring dan baju sekalipun.

Memang, sebagian tetangga yang lain sudah mendapatkan air bersih yang siap digunakan. Ada yang hanya menambah kedalaman sementara yang lain memindahkan titik sumurnya. 

Sebenarnya penggunaan air sumurpun tidak ramah lingkungan. Konon kabarnya juga akan merusak kontur tanah dikemudian hari. Lalu bagaimana upaya developer bekerjasama dengan perusahaan air terkait. Sehingga penggunaan air tanah bisa diminimalisasikan untuk kemudian hari. Kalau sampai saat ini pihak developer tidak mampu menyediakan air bersih, sementara jaringan air berbayar juga tidak ada. Lalu apa pilihan kami sebagai konsumen. Yang terakhir adalah mencari titik sumur baru yang memungkinkan keluarnya air bersih.

Kalau tidak dari sekarang perduli akan bahayanya penggunaan air tanah untuk generasi yang akan datang. Lalu kapan kita akan belajar perduli? Atau menunggu sampai sesuatu terjadi sehingga kita melakukan sebuah perubahan.

Setidaknya saya pernah mengutarakan ide dikepala saya ini...

Selamat bekerja dan beraktivitas, Teman 

Senin, 20 Mei 2013

Dokumentasi Sederhana Kinderfield Rawa Domba









Cepat Sembuh Tigan

Tigan (Sebutan Nenek bagi orang Karo) kami sudah beberapa hari ini kondisinya tidak stabil. Mungkin salah satu penyebabnya usia Tigan yang semakin Uzur. Kurang lebih umur Tigan kami diatas 80 tahun. Sudah beberapa tahun belakangan Tigan tidak dapat melakukan aktivitasnya. Duduk, berbaring, hanya itu saja yang bisa dilakukan. 

Kalaupun ada hal yang lain tentunya harus dibantu. dipapah untuk menaiki kursi roda kesayangannya, untuk sekedar melihat yang terjadi didepan rumahnya. Bersyukur Bi Tengah Kami (Anak dari tigan) masih berkenan meluangkan waktunya untuk menemani dan menjaga Tigan. 

Doa kami beserta Tigan, Kami berharap yang terbaik buat Tigan. apapun itu hasilnya. Tetap juga kami berharap kepada Tuhan agar melakukan kehendakNya. Kami Sayang Tigan.
Teriring Salam, Doa dari Semua Cucumu. Amen

Berikut kenangan ketika kami berkunjung ke Tanah Karo tepatnya Munte, pada saat itu Tigan masih bisa tertawa dan tersenyum.

Kamis, 16 Mei 2013

Penyitaan untuk kasus Tindak Pidana Korupsi

  Ini merupakan ringkasan atas sebuah artikel yang saya baca diharian kompas. Berikut petikannya, berdasarkan KUHP (Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana), untuk dapat melakukan suatu proses penyitaan diperlukan beberapa prosedur, salah satunya surat izin dari Ketua Pengadilan Negeri. Hal ini dikecualikan bagi pelaku Tindak Pidana Korupsi yang tertangkap tangan.

Berbeda sedikit dengan UU KPK pasal 47 yang menyatakan penyitaan dapat dilakukan hanya berdasarkan bukti permulaan yang cukup, dan tanpa izin dari Ketua Pengadilan negri.

Lalu, apa sajakah yang boleh disita, berikut ada 3 hal yang perlu diperhatikan :

1. Instrument Sceleris : Penyitaan terhadap barang yang digunakan untuk melakukan Tindak Pidana Korupsi.

2. Objectum Sceleris : Penyitaan terhadap objek yang berhubungan dengan Tindak Pidana Korupsi.

3. Fractum Sceleris : Penyitaan terhadap hasil tindak pidana Korupsi.

Dalam hal Fractum Sceleris harta yang disita memiliki nilai serupa/sama dengan uang yang didapat dari hasil korupsi. Tetapi dalam hal ini KPK dapat menyita lebih dari yang disangkakan kepada tersangka Korupsi. Dengan alasan yang digunakan adalah harta yang didapat diduga dari hasil korupsi. Hal ini dapat dikembalikan kepada tersangka jika ia mampu membuktikan bahwa harta yang dimaksud didapat bukan dari hasil sangkaan korupsi yang dituduhkan terhadapnya.

Selasa, 14 Mei 2013

Resensi Buku

Resensi dapat kita artikan sebagai sebuah kegiatan dalam menulis dimana didalamnya kita mensarikan sebuah buku serta membagikan informasi yang sudah kita dapat kepada khalayak.  Adapun beberapa alasan mengapa sebuah resensi itu perlu dibuat, ini alasan tersebut :
  • Membantu para pembaca terutama untuk yang belum memiliki kesempatan membaca buku tersebut. Sehingga pembaca mengetahui isi dan ringkasan dari sebuah buku. Syukur-syukur isi dari sebuah buku ataupun resensi dapat dijadikan sebuah bahan diskusi atau obrolan. Tentunya lebih baik daripada ngobrol ngalor-ngidul ngga jelaskan.
  • Dari Resensi kita dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan sebuah buku, entah itu dari tampilannya, isinya atau kualitas buku itu sendiri. Hal tersebut tentunya akan bermanfaat tidak hanya bagi para penikmat buku, tentunya para penerbit dan editor bisa menyimak serta memperbaiki kualitas buku yang mereka terbitkan.
  • Mengetahui sisi lain dari diterbitkannya sebuah buku, Latar belakang buku tersebut, undercovernya.
  • Dari resensi kita juga dapat mengetahui ataupun membandingkan buku-buku yang dihasilkan dari penulis yang sama ataupun dari penulis lainnya. Disini kita dapat melihat seorang Perensi yang memiliki jam terbang tinggi tidak hanya membahas isi buku secara sederhana tetapi lebih mendetail lagi. Tentunya akan menambah wawasan bagi para pembacanya.
  • Bagi Penulis itu sendiri, buku yang diresensi akan menjadi catatan tersendiri, tentunya akan digunakan dalam tekhnik penulisan buku selanjutnya.

Senin, 06 Mei 2013

RUU KUHP

Membaca berita diharian Suara Pembaruan edisi Jum'at  Mei 2013. Semakin memperjelas bagi saya tujuan Rancangan Undang-undang Kitab Umum Hukum Pidana. Mengapa? Ada beberapa point yang bagus untuk diterapkan seperti sebagai berikut :
  1. Kepolisian hanya berhak melakukan penahanan 5 x 24 jam saja.
  2. Kejaksaan  berhak melakukan perpanjangan masa penahanan 5 x24 jam.
  3. Akan ada Hakim Komisaris, dan ini sifatnya masih baru. Diambil dari Hakim yang sudah tersedia sekaligus yang memiliki idealisme dan integritas yang tingi.
  4. Hal baru lainnya adalah penyelesaian masalah diluar sidang pengadilan. Untuk kasus tindak pidana ringan, memiliki masa hukuman 4-5 tahun. Tetapi hal ini tidak berlaku bagi residivis dan yang sudah ditahan. Karena jika sudah ditahan akan mengurangi makna penahanannya. Hal ini sudah di lakukan di negara Belanda dan Rusia. Terbukti mereka sudah berhasil mengurangi perkara yang masuk ke pengadilan.
Sepertinya Indonesia sebagai Rechstaat (Negara Hukum) perlu mempercepat langkah untuk menetapkan dan memutuskan RUU menjadi sebuah UU. Sehingga permasalahan hukum yang ada dinegeri ini tidak semakin menumpuk. Yang terpenting juga adalah  mengembalikan kuasa dan kedudukan para aparat penegak hukum sebagai Officium Nobile (Profesi yang terhormat).
Pastinya demikian. Mari kita nantikan. Semoga