Senin, 18 Maret 2013

Jujur itu Hebat.. (Meskipun Sulit)


" Berkat orang jujur mengembangkan kota, tetapi mulut orang fasik meruntuhkannya". (Amsal 11:11)

Kalau kita melintas didepan gedung KPK kuningan pastinya kita akan melihat sebuah baliho raksasa yang bertuliskan "Berani Jujur itu Hebat". Kejujuran pada saat ini sepertinya sudah menjadi barang yang sangat langka. Meskipun tidak bisa kita pungkiri tetap saja ada orang orang jujur disekitar kita. Saya mengutip sebuah cerita dari renungan pagi hari ini.
Alkisah, Ketika sampai di rumah, seorang pensiunan di kota Braunschweig, Jerman sangat terkejut. Ia membeli daging seharga Rp69.000, namun ternyata kantong yang dibawanya pulang berisi uang sebanyak Rp24.700.000. Rupanya secara tak sengaja pegawai toko memberinya bungkusan yang salah. Segera ia menelepon polisi dan mengembalikan uang itu. Sebagai imbalan atas kejujurannya, ia mendapatkan hadiah sekeranjang sosis dan uang Rp1.200.000."

Selalu ada upah untuk sebuah kejujuran yang kita lakukan. Bisa langsung seperti kisah diatas, atau bisa juga nanti atau bisa juga tidak ada upah sebuah kejujuran. Lantas sikap apa yang akan kita ambil tetal berbuat jujur karena ada upah atau tetap berbuat jujur karena memang sudah seharusnya demikian.

Firman Tuhan menyatakan bahwa kejujuran bukan hanya bermanfaat untuk orang yang bersangkutan, namun meluas ke lingkungan tempat tinggalnya. Tindakan yang jujur bersumber dari hati yang tulus (ay. 3), kesediaan untuk mempraktikkan kebenaran, dan penghargaan pada proses kerja yang berbuah langgeng. Orang fasik, sebaliknya, mengejar hasil yang melimpah secara manipulatif (ay. 1). Kejujuran mendatangkan berkat; kefasikan merusak masyarakat.

Komunitas apa pun tidak mungkin berkembang menjadi maju dan nyaman untuk didiami jika tidak dibangun di atas dasar kejujuran dan ketulusan warganya. Menurut sebuah survei, keunggulan suatu negara dan kepuasan warganya tidak ditentukan oleh kekayaan alam yang mereka miliki. Penentunya adalah bangunan relasi masyarakat yang berlandaskan kejujuran, kerja keras, kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pemerintahan dan penegak hukum, serta adanya penghormatan terhadap hak asasi manusia.

Sebagai orang beriman, kita dapat berperan dengan mengedepankan kejujuran dalam berkarya. -KEJUJURAN MENDATANGKAN BERKAT, KEFASIKAN MERUSAK MASYARAKAT.
disarikan dari sumber SABDA.org sebagai sumber tulisan

Sudahkah kita berbuat jujur hari ini. Mari mulai dengan 3 M, Mulai dari yang mudah, Mulai dari diri sendiri dan Mulai saat ini.

Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih