Rabu, 28 November 2012

Robohnya Surau kami (AA. NAVIS)

Buku yang pada tahun 2010 memasuki tahun cetakan yang 16.  Diterbitkan oleh Kompas Gramedia. Setidaknya sudah 2-3 kali saya membaca buku ini. Selalu ada sesuatu yang baru ketika membacanya. AA NAVIS menawarkan sisi pandang yang berbeda dalam setiap cerpen – cerpen yang dibuatnya. Baiknya juga buku ini menjadi rujukan bagi para generasi muda kita, sehingga diharapkan memiliki sudut pandang yang berbeda. Tetap kritis dan berfikir di “luar kotak”
Buku yang terdiri dari 10 Cerita Pendek + Biografi dari penulis. Berisikan :
Di Cerpen pertama yang juga dijadikan judul dari buku ini, Robohnya Surau Kami, menceritakan tentang sisi lain cara kita memandang sebuah agama. Bukan fokus terhadap yang diatas saja yang perlu di perhatikan. Terhadap sesama, sekitar dan keturunan kita di jadikan tolak ukur berikutnya untuk dapat berkenan masuk ke surga. Cerita dimulai dari tewasnya seorang penunggu surau karena kecewa dengan bualan temannya. Dimana di ceritakan disurga nanti, ada seorang Haji Soleh yang sudah haji berkali – kali. Sholat tidak pernah luput, toh akhirnya dimasukkan Tuhan ke Neraka. Alasan Tuuhan memasukkan ke Neraka sederhana, apa yang sudah Haji Soleh lakukan di dunia, “tidak ada” semuanya hanya memuji dan memuliakan Tuhan. Tuhan menyahut “apakah saya Gila akan Pujian dan saya haus akan penyembahan”

Di Cerpen yang kedua berjudul “anak Kebanggan” bercerita tentang kebanggaan seorang tua kepada anak semata wayangnya. Dan kebanggan itu membabi buta, tanpa melihat fakta dan keadaan sebenarnya yang terjadi. Sampai matinya pun ia begitu bangga kepada anaknya. Dan yang dibanggakan 180 derajat berbeda dari yang sebenarnya.

Cerpen yang ke 3 “nasihat – nasihat” bercerita, terkadang orang tua yang biasa  memberikan nasihat bisa tertipu. Banyak makan asam dan garam tidak serta merta menjadikan seseorang bisa mnduga segala sesuatunya. Selalu ada bagian manusia yang tidak bisa di tebak dan tidak bisa dipungkiri.
Berikutnya adalah “Topi dan Helm” Kebanggan seseorang terhadap apa yang dikenakannya terkadang membuat orang tersebut dapat berbuat melebihi dari apa yang bisa dia lakukan. Tidak perduli harga yang harus dibayar nantinya.

“Datang dan Perginya” menceritakan kisah kehidupan ayah yang bejat dan durjana. Tetapi tobat di akhir hidupnya. Sementara akibat dari perbuatannya berpengaruh terhadap generasi berikutnya, salah satu cerita yang terbaik, setelah “robohnya surau kami” . Inti ceritanya adalah anak kandung dari bapak ini menikah dengan anak dari selingkuhanya bapak ini ketika masih muda. Jadi anak mereka menikah meski ada hubungan sedarah. Dan ini disembunyikan ibunya. Dengan alasan takut membuat kebahagiaan mereka hancur. Dan Ayah sadar dampak kekeliruan yang dibuatnya. Pesan moral, dampak dari yang kita buat hari , belum tentu hari ini juga kita terima. Bisa jadi berdampak dikemudian hari. Atau bahkan di generasi berikutnya.

“Pada pembotakan terakhir” bercerita tentang penyiksaan anak yatim piatu oleh saudaranya sendiri (mak etek) hingga anak itu meninggal dunia. Bahkan Bulying dan kejamnya ibu tiri sudah ada dari jaman dahulu rupanaya.

“Angin dari Gunung” bertemunya dua sejoli kembali. Dengan keadaan yang berbeda. Si Pria yang sudah beristri dan memiliki anak. Sementara si wanita masih tetap sendiri dengan kecacatan tubuhnya akibat perang. Mereka mengingat masa lalu. Kagum dan berusaha kembali kepada waktu itu. Hanya saja realita kenyataan sekarang tidak bisa dipungkiri. Keras dan Kejamnya hidup kerap menjadikan jiwa kita semakin kerdil.

“Menanti Kelahiran” Bercerita tentang seorang ibu yang bersiap menanti kelahiran si anak sementara dia harus berhadapan dengan doktrin – doktin negatif yang terjadi pada masa itu. Untuk melawan, takut terjadi sesuatu dengan cabang bayinya. Untuk tetap  menerima, toh hasil akhirnya kenyataan pahit tetap dihadapi. Bahkan mereka mendapatkan 2 kenyataan pahit, tertipu dan anak yang tidak normal. Pesan moralnya adalah untuk berbuat baik dan menyenangkan semua orang adalah sulit. Dan yang terburuk adalah kita sendiri yang akan menerima dampak itu semua. Miris ketika kebenaran dan kepolosan yang kita berikan disalahgunakan. Dan momentum tersebut digunakan dengan baik untuk memojokkan seseorang.

“ Penolong” Ini cerita tentang kejadian dengan latar belakang kecelakaan kereta, dan seorang anak muda Sidin namanya. Melakukan penolongan. Hanya saja ketika korban terakhir, dia dihadapkan pada pilihan sulit. Korban terjepit dan harus dipotong kakinya. Untuk memotongnya dia tidak rela dan berani. Dan teman disebelahnya melakukan itu. Meskipun pada akhirnya dia tahu, gadis tadi selamat meskipun kakinya sudah dipotong. Dan teman yang memotongnya tadi adalah seorang gila yang biasa berkeliaran dikampung. Dan telah tewas juga!

“ Dari masa ke masa”  yah seputaran debat plotikus muda dan tua. Generasi lampau dan generasi saat ini.

Semua cerita pendek karya AA NAVIS ini berlatar belakang Sumatera Barat. Mungkin juga karena beliau dari sana kali ya....

Bagi saya buku ini sangat bermanfaat dan membuat kita memilliki sebuah sudut pandang yang baru dan lebih segar. Meskipun buku ini bisa dikatakan buku tua. Tapi tetap masuk untuk saat ini kok.

Salam .. Semoga bermanfaat...

Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih