Senin, 12 November 2012

Guruku Sayang Guruku Malang

"Tugas dan ajaran yang di berikan membentuk pola pikir kami. Hukuman yang diberikan mengajari kami akan setiap konsekuensi dari keputusan yang kami ambil, dan yang terakhir dengan mengikuti setiap ajarannya kami sadar ada tahapan dalam hidup ini".
GURU... itu di Gugu dan di Tiru. Guru yang menurut kamus bahasa Indonesia adalah seseorang yang pekerjaan / profesinya mengajar. Guru adalah sosok pahlawan tanpa tanda jasa. Bahkan kitapun pastinya pernah mendengar peribahasa, guru kencing berdiri murid kencing berlari.

Dapat kita lihat dari beberapa pengertian diatas peran serta guru sangatlah luar biasa. Bahkan ketika kota Hiroshima dan Nagasaki di jatuhi bom atom. Pemerintahan Jepang pada saat itu segera melakukan penghitungan jumlah guru yang selamat. Sebab mereka percaya ditangan para guru lah masa depan Jepang berada. 
Setidaknya di mata saya guru adalah sosok yang sangat penting dan berharga. Hingga sangat berharganya, orangtua saya mengizinkan guru saya untuk mendidik saya apapun caranya asalkan menjadi pribadi yang lebih baik.
Masih teringat jelas, ketika guru saya memarahi atas tingkah laku saya yang suka jahil terhadap teman. Alih - alih mengadukan ke orang tua untuk mendapatkan pembelaan. Yang terjadi adalah orang tua saya mendukung hal yang dilakukan guru saya itu.
Bahkan pengalaman teman saya lebih hebat lagi, seorang teman yang bisa di kategorikan nakal dan biang keributan di kelas tunduk lemas dan menangis ketika di ancam akan dikeluarkan dari sekolah. Orangtuanya pun pada saat itu mendukung penuh rencana sekolah mengeluarkan anaknya, jika sang anak tidak merubah perilakunya. Hasilnya sang anak pun tidak punya pilihan lain. Pilihannya hanyalah berubah dan belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Guru bagi saya pada saat itu merupakan sosok yang menjadi momok, karena pada saat itu saya melihat dari kacamata yang berbeda. Guru hanya seseorang yang selalu memberikan beban tugas pada kami muridnya dan senang menghukum jika kami melakukan kesalahan.
Faktanya beberapa tahun setelah itu dengan segala pengalaman didikan yang kami terima membuat kami mampu bertahan hidup dan bersaing di tengah kerasnya kehidupan ini.
Tugas dan ajaran yang di berikan membentuk pola pikir kami. Hukuman yang diberikan mengajari kami akan setiap konsekuensi dari keputusan yang kami ambil, dan yang terakhir dengan mengikuti setiap ajarannya kami sadar ada tahapan dalam hidup ini.

Lalu bagaimana keadaan Guru pada saat ini.
Saya pun sedikit terhenyak kaget ketika melihat banyaknya tawuran pelajar yang terjadi, bullying dan kekerasan yang masuk ke dunia pendidikan kita. Saya melihatnya sebagai kegagalan pendidik kita, tentunya tidak terlepas dari peran pendukungnya seperti orang tua dan lingkungan. Ketika para guru mendidik sedikit keras, langsung di berikan sanksi. Orangtua juga mengambil peran yang terlalu protektif.
Sementara itu guru mengalami problematika sendiri di organisasinya. Guru honorer teriak akan status yang disandangnya. Sementara kesejahteraan guru di pedalaman berbeda dengan kota besar. Sedikit banyak perbedaan ini yang menyebabkan kualitas pendidikan kita memiliki disparitas yang tinggi antara yang satu dengan yang lainnya.
Guru di kota besar seperti jakarta sudah merasakan manfaat dari sertifikasi baik secara finansial. Lalu bagaimana dengan di daerah pelosok sana. Untuk mengikuti ujian sertifikasi saja mereka terkendala. Sementara pihak Kementrian pun seolah - olah tidak perduli dengan kejadian ini dan tidak perduli dengan setiap kendala yang dihadapi oleh guru di daerah sana.
Hasilnya semua guru berlomba ke kota besar untuk dapat mengakses setiap hal dengan mudah. Bisa dipastikan jika ini masih berlanjut, masa depan pendidikan kita terutama yang didaerah akan semakin mundur. 
Adalah sangat baik jika kualitas guru di standarisasi, saya setuju, tetapi tidak untuk sebagian kota besar  baiknya untuk semua guru hingga ke pelosok. Dan kalau bisa tidak hanya kualitas guru saja yang harus diperbaharui. Kualitas sarana pendukungnya pun harus di perhatikan. Jangan sampai ada anak yang sekolahnya di bawah rimbunan pohon saja. Ataupun sekolah yang tidak layak huni. Dan sewaktu - waktu sekolah tersebut siap rubuh dan memakan korban jiwa.
Dan jangan lah juga para orang tua mengintervensi guru terlalu dalam. Ada peranan yang guru harus mainkan, biarkan mereka memerankannya dengan baik. Begitupun orang tua memainkan peranannya dengan baik. Tidak hanya menuding kualitas guru yang kurang dan lain sebagainya. 
Dan tidak lepas tangan juga perhatian pemerintah terhadap tenaga pendidik kita. Sehingga semakin banyak generasi muda kita yang tertarik untuk menjadi tenaga pendidik. Jangan nanti di depan, kita kekurangan guru, dikarenakan tidak ada insetif yang menarik.

Jepang saja bisa mengejar ketertinggalan mereka hanya dengan beberapa tahun saja, tentunya hal ini didukung oleh sarana dan prasarana guru yang berkualitas. Pastinya Indonesia pun akan mengalami hal sama. Jika Guru berkualitas maka bangsa pun akan berkualitas. 

Salam  














Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih