Kamis, 27 Januari 2011

Santap siang di "Jengkol"



Pak Imam. W, Pak Keli. M dan Pak Cahya R. Santap Siang "jengkol"
 Entah dari mana asal nama "jengkol" dilekatkan dengan kantin di daerah pasar kembang cikini. "makan dimana? tadi di "jengkol". Kalau orang yang mendengar percakapan ini pastilah berfikiran sebuah tempat makan di mana makanan yang paling dominan adalah "jengkol" atau mungkin sebuah daerah yang identik dengan "jengkol". Rupanya tidak keduanya, kalau penamaan berdasarkan daerah, lokasi kantin ini berada di daerah pasar kembang cikini, lalu mungkin masakan yang disajikan dominan adalah "jengkol". Tidak juga karena setahu saya cuma ada satu jenis masakan yang berhubungan dengan jengkol yaitu semur jengkol. Menu yang lainnya tidak berbeda dengan kantin - kantin ataupun warteg - warteg lainnya.   Ada sup, juga perkedel, ikan sambal juga ada, bahkan pepes ikan teri pun ada. Mungkin (menurut saya) hanya dikantin kita bisa menemukan jengkolnya. Bagi yang suka jengkol, pasti larinya ke kantin ini. Awalnya pun saya sedikit bingung dengan penamaan yang diberikan. Pastinya ketika orang bicara "makan di jengkol" pastilah di sini tempatnya. Pak Keli dan Pak Imam serta Pak Cahya, rupanya sudah sering ke tempat ini, karena mereka sudah akrab dengan Udin dan Emak (pemilik kantin "Jengkol" ini)
Siang ini kami ber-empat (saya, Pak Keli, Pak Imam dan Pak Cahya) makan di warung "jengkol". Pak Keli memesan menu nasi + semur jengkol + Sup daging beserta krupuk dan tempe goreng, dan pak Imam pun hampir sama, nasi dengan lauk semur jengkol di tambah SUp daging.
Pak Imam dan Pak Keli dengan menu jengkol-nya
Berbeda dengan Pak Cahya dan saya, Pak Cahya hanya memesan nasi ditambah lauk telur dan juga sepotong kecil ikan jambal dan krupuk tidak  memesan "jengkol", saya pun memesan menu singkat, nasi setengah dan sepotong "jengkol" ditambah perkedel dan krupuk. 
Menyantap jengkol bagi sebagian orang memang menyenangkan dan mengenyangkan bisa dilihat dari banyaknya konsumen emak dan udin yang memesan makanan ini. Cita rasa yang ditawarkan jengkol memang sedikit unik, agak sedikit pahit dan kenyal seperti daging. Tapi hati - hati, kalau tidak  terbiasa ataupun terlalu banyak  makan jengkol akan menyebabkan keracunan  jengkol (Jengkolan). 
Nasi Setengah + Sepotong Jengkol + Perkedel
Mengenai harga, murah atau mahalnya tergantung dari kemampuan masing - masing kan. Sebagai informasi saja, Nasi setengah dengan lauk sepotong "Jengkol" dan Perkedel ditambah krupuk dan Es jeruk dikenakan tari RP 9.000,- 
Mahal atau murah ya?
Tempat ini cocok untuk di jadikan tempat makan siang tetapi kurang cocok dijadikan sebagai tempat nongkrong (hangout) .

"Salam Jengkol"

Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Untuk Sementara Pesan di Moderasi....
Menghindari Beberapa konten2 yang negatif ...
Berfikir yang Baik dan tinggalkan jejak yang baik..
Terima kasih